Akhir
Hidup
Matahari
telah terbit teriakan ayam bertanda hari mulai pagi. Danu yang sedang terbaring diranjang mulai membuka matanya
sembari mengucak-ngucak matanya yang sedikit demi sedikit mulai terbuka lebar,
setelah cukup sadar danu beranjak dari tempat tidur lalu pergi mandi karena
hari ini dia harus pergi kesekolah. Makanan
sudah tersedia dimeja makan namun tidak ada seseorang didapur. Danu yang sudah
berpakaian seragam segera pergi kedapur, untuk sarapan agar tidak terlambat
pergi kesekolah. Seperti biasa danu makan bersama ibunya, tapi entah mengapa
hari ini ibunya nampak tidak ada.
“Ibu……”
“Ibu…….... “
“Bu…………………..”
Danu
memanggil ibunya untuk sarapan bersama, namun tidak ada jawaban. Dia hendak
beranjak dari dapur memanggil ibunya tetapi dia melihat secarik kertas yang
ditempel pada kulkas bertulisan : “Danu
ibu harus pergi bekerja pagi-pagi,
kamu
jangan lupa pergi kesekolah sarapan sudah ibu siapkan.”
Beberapa
menit danu terdiam setelah membaca pesan dari ibu, seketika langsung dilahapnya
makanan yang tersedia dimeja. Dia berangkat kesekolah seorang diri dengan
berjalan kaki, pikirnya tidak tenang karena dia pergi tanpa melihat wajah
ibunya. Pada saat jam istirahat toni teman sebangku danu memulai sebuah
pembicaraan dengan danu.
“Dan, apakah kamu masih memiliki kakek dan
nenek?”
“Tidak, aku hanya memiliki kakek. Nenekku
sudah meninggal, kalau kamu ton ?”
“Kakek dan nenekku sudah meninggal beberapa
tahun yang lalu,
nenekmu kapan meninggal ?”
“Toni, aku tidak tahu. Ibuku tidak penah
bercerita kapan nenek meninggal.”
Lonceng
sekolah berbunyi tanda waktu istirahat telah selesai, danu dan toni mengakhiri
pembicaraannya. Tidak terasa hari mulai siang jam telah menunjukan pukul 02.00
waktu belajar berakhir dengan doa. Danu bergegas merapikan buku pelajaran yang
dimilikinya lalu kaki-kakinya mulai melangkah meninggalkan tempatnya bersekolah
SMA Nusa Bangsa, perlahan-lahan langkah itu mengantar dirinya menuju rumah.
Sesampainya
dirumah danu langsung melepaskan kedua alas kaki yang masih melekat dikakinya
dan segera pergi kekamar untuk menganti pakaian. Tidak lama terlintas
dipikirannya tentang nenek karena perbincangannya dengan toni waktu istirahat
tadi, didalam hati kecilnya danu bertanya-tanya mengapa ia tidak tahu kapan
neneknya meninggal. Yang ada dibenaknya tentang seorang nenek hanyalah seorang
wanita tua renta yang membimbing dan memperhatikan cucunya.
Rasa
ingin tahunya tentang sosok nenek memaksakan pikirannya untuk mengingat-ngingat
kembali sesuatu tentang nenek, tetapi itu tidak berhasil karena tidak ada sama
sekali yang danu ingat dari neneknya. Lama-kelamaan tanpa sadar pikirnya
melayang membawanya pergi kedunia khayalan disuatu tempat danu melihat sosok
wanita tua renta yang melmbai-lambaikan tangan seakan-akan memanggil danu untuk
mendekat lalu terdengar suara,
“Danu…”
“Danu…….”
“Danu……………”
Suara
itu semakin keras dan jelas memasuki telinganya, danu terbangun dari mimpinya.
Ternyata suara itu berasal dari ibu yang memanggil danu dari luar kamar saat
baru pulang bekerja. Tanpa pikir panjang setelah terbangun, danu langsung
berjalan keluar kamar untuk menghampiri ibunya.
“Ibu baru pulang bekerja?”
“Iya, dimana saja kamu? ibu panggil-panggil
baru saja keluar?”
“Danu
tertidur bu’ baru saja terbangun saat ibu panggil tadi.”
“Oh… kalau begitu mari kita makan
bersama-sama?”
“Iya
bu’. ”
Ibu
segera membuka bungkusan yang baru dibeli tadi dan meletakkannya diatas meja
makan lalu mereka menyantapnya bersama-sama. Pikiran danu terus bertanya-tanya
tentang nenek, dia ingin menanyakan kepada ibu kapan nenek meninggal. Rasa
ingin tahu danu membesar sehingga tidak dapat lagi membungkam mulutnya untuk
tidak berbicara. Setelah mereka selesai makan danu langsung bertanya kepada
ibu.
“Buu, bolehkah danu bertanya sesuatu?”
“Boleh,
apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Kapan nenek meninggal?”’
“Sudah lama, mungkin sekitar 25 tahun yang
lalu.”
“Oh… mengaapa nenek meninggal bu?”
“Karena sakit.”
“Sakit apa?”
“Nenekmu menderita penyakit kanker.”
“Benarkah? Tolong ceritakan kepada danu.”
“Baik ibu akan mencerita kepada danu, awalnya
nenek selalu mengalami
pendarahan tanpa henti ibu saat itu
masih berumur 18 tahun lalu kakek dan ibu
membawa
nenekmu untuk periksa ke dokter.
Hasil
dari pemeriksaan dokter menunjukan nenek telah mengidap penyakit
kanker
stadium 2B. Ibu dan kakek sangat terkejut dengan hasil pemeriksaan dokter,
kami
tidak menyangka karena nenekmu terlihat baik-baik saja. Dokter menyarankan
nenek
untukmenjalani pengobatan terapi sinar dan kemoterapi, pada terapi sinar
pertama
semuanya berjalan tampak lancar sampai terapi sinar ke-25 lalu pengobatan
dilanjutkan
dengan kemoterapi. Kemoterapi pertama dilanjutkan namun tidak berjalan
dengan
lancar, sebab efek samping dari obat kemo yang sangat keras. Setelah
melakukan
kemo terapi nenek mengalami mual dan nafsu makannya hilang, terapi
sinar
tetap dilanjutkan keadaan nenek mulai memburuk kuku dan jari-jari ditubuhnya
mulai
menghitam rambutnya juga rontok sampai nenek tidak mampu lagi
untuk
melanjutkan terapi. Nenek berhenti menjalani terapi namun penyakit itu
semakin
menggrogoti tubuhnya pendarahan itu terus berlangsung
beruang-ulang
sehingga nenek harus menjalani perawatan dirumah sakit. Setelah
kejadian
itu nenek kembali melanjutkan terapi sinar dan kemo terapi tapi keadaan
tubuhnya
semakin memburuk rambut dikepalanya membotak, badannya mulai
mengurus,
kaki-kakinya tidak mampu lagi digunakan untuk bangun atau berdiri
sehingga
nenek harus menggunakan kursi roda. Dan pada akhirnya nenek tidak
sanggup
lagi untuk menjalani terapi, setelah itu terapi dihentikan. Nenek hanya bisa
beristirahat
terbaring
lemah dirumah, terkadang sesekali ibu mengajak nenek jalan-jalan naik
kursi
roda disekitar rumah. Ingatan nenek mulai menghilang, namun penyakit itu
masih
bersarang ditubuh nenek sehingga sering terjadipendarahan yang
mengharuskan
nenek masuk rumah sakit kembali untuk menjalani perawatan.
Tepatnya
pada hari kamis pukul 01.00 siang dirumah sakit nenek meninggal dunia
karena
penyakit kankernya.”
“Sekarang
nenek dikuburkan dimana bu?”
“Didesa
tempat kelahiran nenekmu.”
“Kurang lebih sekitar 3 jam.”
“Nanti kapan-kapan ibu ajak danu kekubur
nenek?”
“Iya, nanti ibu akan bawa danu kesana.”
Matahari
mulai terbenam sinarnya tenggelam kearah barat, hari mulai sore suara adzan
menyelimuti pendengaran ibu dan danu bertanda panggilan untuk shalat telah
tiba. Danu segera merapikan meja makan dan mencuci piring, perbincangan mereka
berakhir karena mereka akan segera melaksanakan shalat magrib.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar