MENULIS
SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA
Karya
: DR. Henry Guntur Tarigan
Keterampilan berbahasa mempunyai
empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara,
keterampilan membaca, dan yang terakhir keterampilan menulis. (Nida, 1957: 19;
Harris, 1977: 9; Tarigan,1981:1).
Bahasa seseorang mencerminkan
pikirannya. Semakin trampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula
jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan
praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih
keterampilan berpikir. (Tarigan, 1980: 1, 1981: 2. Dawson [ et al] , 1963 :
27). Ketrampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan,
harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur. Kiranya tidaklah
terlalu berlebihan bila kita katakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu
ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Sehubungan dengan
hal ini ada seorang penulis yang mengatakan bahwa “menulis dipergunakan oleh
orang terpelajar untuk mencatat/merekam, meyakinkan, melaporkan/memberitahukan,
dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai
dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiannya dan mengutarakan
dengan jelas, kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian
kata-kata, dan struktur kalimat.” (Morsey, 1976 : 122).
Antara menulis dan membaca terdapat hubungan yang sangat erat. Bila kita
menuliskan sesuatu, maka pada prinsipnya kita ingin agar tulisan itu dibaca
oleh orang lain; paling sedikit dapat kita baca sendiri pada saat lain. Kalimat tujuan direncanakan untuk
menolong kita untuk berpegang teguh pada pikiran pokok yang ada dalam hati kita
dan mengarahkan responsi yang kita inginkan dari pembaca. Adapun ciri-ciri
tulisan yang baik itu antara lain :
a. Tulisan
yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis mempergunakan nada yang serasi.
b. Tulisan
yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis menyusun bahan-bahan yang tersedia menjadi keseluruhan yang utuh.
c. Tulisan
yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis dengan jelas dan
tidak samar-samar.
d. Tulisan
yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis secara meyakinkan.
e. Tulisan
yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk mengkritik naskah
tulisannya yang pertama serta memperbaikinya.
f. Tulisan
yang baik mencerminkan kebanggan sang penulis dalam naskah atau manuskrip.
Penulis
yang baik menyadari benar-benar bahwa hal-hal kecil seperti itu dapat memberi
akibat yang kurang baik terhadap karanya. (Adelstein & Pival, 1976 : xxi).
Secara singkat ada pula ahli yang merumuskan ciri-ciri tulisan yang baik
seperti berikut ini:
a) Jujur:
jangan coba memalsukan gagasan atau ide anda.
b) Jelas:
jangan membingungkan pembaca.
c) Singkat:
jangan memboroskan waktu pembaca.
d) Usahakan
keanekaragaman: panjang kalimat yang beraneka ragam; berkarya dengan penuh
kegembiraan. (Mc. Mahan & Day; 1960 : 6).
Secara
singkat dapatlah dikemukakan bahwa :
a. Tulisan
dibuat untuk dibaca.
b. Tulisan
didasarkan pada pengalaman.
c. Tulisan
ditingkatkan melalui latihan terpimpin .
d. Dalam
tulisan makna menggantikan bentuk.
e. Kegiatan-kegiatan
bahasa lisan hendaklah mendahului kegiatan menulis. (Logan [at al], 1972 :
297).
Carlyle,
Kant, Mirabeau, dan Renan – yang percaya bahwa penemuan tulisan benar-benar
telah membentuk awal peradaban yang nyata. Pendapat-pendapat tersebut
benar-benar ditunjang pula oleh pernyataan yang acapkali dikutip dalam
antropologi; “As language distinguishes man from animal, so writing
distinguishes civilized man from barbarian” (Sebagaimana bahasa membedakan
mansia dari binatang, begitupula tulisan membedakan manusia beradab dari
manusia biadab). Atau dengan kata lain : Tulisan hanya terdapat dalam
peradaban, dan peradaban tidaklah ada tanpa tulisan. ( Gleb, 1969: 2212).
Hubungan
erat antara menulis dan berbicara. Kedua-duanya memliki ciri yang sama, yaitu
produktif dan ekspresif. Perbedaannya ialah bahwa dalam menulis diperlukan
penglihatan dan gerak tangan, sedangkan dalam berbicara diperlukan pendengaran
dan pengucapan. “Retorik adalah seni penggunaan bahasa secara tepat guna”.
(Brooks and Warren, 1979 : 5). Persamaan antara tulisan dan ujaran ialah bahwa
kedua-duanya :
·
Merupakan alat komunikasi
·
Merupakan salah satu aspek keterampilan
berbahasa
·
Bersifat ekspresif
·
Bersifat produktif
·
Memerlukan kosa kata yang cukup
·
Menggunakan struktur kata, frase,
kalimat
·
Menuntut kecepatan umum
·
Menuntut latihan intensif
·
Menuntut pendidikan khusus berprogram.
Perbedaan
atara keduanya :
Tulisan
ada di atas kertas. Untuk dilihat/dibaca. Dapat dilihat, tidak dapat disimak.
Sedikit/hampir tidak ada pengulangan. Menggunakan bahasa resmi/buku. Sedangkan
ujaran ada dalam ucapan. Untuk disimak. Dapat disimak, tidak dapat dibaca.
Sering/banyak diadakan pengulangan. Mempergunakan bahasa
percakapan/sehari-hari.
Proses
komunikasi berlangsung melalui tiga media :
a) visual
(atau non verbal)
b) oral
(lisan)
c) written
(tulis).
Tujuh
jenis tujuan menulis :
1) tujuan
penugasan (assignment purpose)
2) tujuan
altruistrik ( altruistric purpose)
3) tujuan
persuasif ( persuassive purpose)
4) tujuan
penerangan ( informational purpose)
5) tujuan
pernyataan (self-expressive purpose)
6) tujuan
kreatif (creative purpose)
7) tujuan
pemecahan masalah (problem-solving purpose).
ü nada
akrab/intim ( the intime voice)
ü nada
informatif
ü nada
mejelaskan ( the explanatory voice)
ü nada
argumentatif ( the argumentative voice)
ü nada
mengkritik ( the critical voice)
ü nada
oritatif
Enam
jenis tulisan (Disarikan dari : Adelstein & Pival, 1976 : 1978).
Tulisan pribadi adala suatu
pernyataan dari gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai
pengalaman-pengalaman kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita
sendiri ataupun bagi kepentingan dan kenikmatan sanak keluara atau sahabat
karib.
Empat
jenis bentuk tulisan pribadi :
§ buku
catatan harian (journal)
§ cerit
otobiografis (autobiographical narrative)
§ lelucon
otobiografis (autobiographical anecdote)
§ esei
pribadi (personal essay)
Petunjuk
menulis jurnal
a) Tulislah
sesuatu setiap hari
b) Batasilah
setiap catatan jurnal sengan satu pokok penting dan luar biasa saja.
c) Hendaklah
melibatkan diri lebih pada penangkapan setiap seluk beluk pengalaman yang
penting tinimbang pada sarana-sarana penulisan.
d) Katakan
dan ceritakan semua itu dengan kata-kata sendiri
e) Sekali-kali
bacalah catatan-catatan itu sehari atau dua hari kemudian. (Adelstein &
Pival, 1976 : 17).
Tujuan tulisan
bernada penerangan, nada tulisan seperti ini bersifat informatif, bernada
memberi penerangan kepada orang lain. Dan nada informasi ini biasanya
menghasilkan tulisan bersifat deskriptif, tulisan yang bersifat melukiskan tau
memerikan, bila diabadikan di atas kertas. Ditinjau dari segi bentknya, tulisan
pemerian dapat dibagi atas pemerian faktual (factual description) dan pemerian
pibadi (personal description).
Bentuk-bentuk
tulisan penyingkapan. Berdasarkan bentuknya, tulisan penyingkapan dapat dibagi
atas : a) klasifikasi b) devinisi c) analisis e) opini. (Adelstein &Pival,
1976 : 232). Definisi adalah sejenis penyingkapan yang merupakan dasar bagi
semua tulisan yang bertujuan untuk menjelaskan. Richard M. Weaver membedakan
tiga jenis devinisi, yaitu:
a) definisi
“kamus”
b) definisi
logis atau formal
c) definisi
secara luas. (Weaver, 1957 : 30).
Jenis-jenis
Definisi : Sinonom, Ilustratif, Negatif, Formal, Perluasan. Analisis terbagi
menjadi dua yaitu analisis Proses dan Butir.
Tulisan persuasif adalah tulisan
yang dapat merebut perhatian pembaca , yang dapat menarik minat, dan yang dapat
meyakinkan mereka bahwa pengalaman membaca meupakan suatu hal yang amat
penting. Ciri-ciri tulisan persuasif
haruslah jelas dan tertib. Hidup dan bersemangat. Beralasan kuat.
Bersifat dramatik. Persuasi logis atau yang biasa disebut argumentasi. Persuasi
logis berdasar pada penalaran logis. Penalaran logis mencakup dua proses dasar
berpikir dan organisasi, yaitu:
a. induksi
b. deduksi
Tulisan
yang berada mengkritik menghasilkan tulisan mengenai sastra. Dalam merencanakan
dunia fiksi ini, para penulis memegang peranan yang beraneka ragam, antara lain
:
a) Penulis
sebagai pemimpin/pengelola pentas; sebagai sutradara, maka sang penulis
memusatkan perhatian pada aspek-aspek teknis karya mereka.
b) Penulis
sebagai penulis cerita (scriptwriter), maka sang sastrawan
berhadapan dengan aspek-aspek retorik suatu karya sastra.
c) Penulis
sebagai direktur atau pemimpin, kalau kita analogikan suatu
karya sastra dengan suatu produksi drama, maka peranan penulis sebagai direktur
adalah membentangkan tahap-tahap makna yang telah menjadi sifat karya tersebut.
Ironi
adalah sejenis gaya bahasa yang mengemukakan suatu hal dengan makna yang
berlainan, merupakan suatu kualitas dalam setiap pernyataan atau situasi yang
muncul dari kenyataan bahwa sesuatu yang wajar, yang diharapkan tidak disebut
atau dilaksanakan, tetapi diganti dengan kebalikannya. Pradoks adalah suatu
gaya bahasa pertentangan; sebagai contoh :
Neraka
itu adalah sorga baginya.
Gula
terasa pahit bagi saya.
Kerja
keras merupakan hiburan bagi petani.
Dalam
aneka pradoks yang dipergunakn dalam karya-karya sasta terdapat suatu kebenaran
kesemestaan yang merupakan dasar bersama. Kadang-kadang pradoks dipergunakan
untuk menyebutkan suatu pertanyaan yang melulu bertentangan dengan keyakinan
umum. ( Laverty [et al], 1971 : 536).
Tulisan yang bernada otoritatif
menghasilkan kaya ilmiah (the research
paper). Tahapa-tahap yang biasanya dilalui dalam tulisan ilmiah adalah
sebagai berikut :
a. Memilih
Pokok/Topik
b. Membaca
Pendahuluan.
c. Menentukan
Bibiliografi Pendahulan.
d. Membuat
Kerangka Pendahuluan.
e. Membuat
Catatan.
f. Menyusun
Kerangka Akhir.
g. Menyusun
Naskah Pertama.
h. Mengadakan
Revisi.
i.
Menyusun Naskah Akhir.
j.
Mengoreksi Cetakan Percobaan.
(Adelstein
and Pival, 1976 : 521; Klammer, 1978 : 83 : Willis, 1977 : vii-).