Rabu, 23 Maret 2016

Ulasan



Buku berjudul “MENULIS SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA” merupakan buah karya dari Dr.Henry Guntur Taringan. Merupakan cetakan ke dua yang diterbitkan oleh Angkasa Bandung pada tahun 1984. Pada bab pertama buku ini membahas keterampilan berbahasa dan komponen-komponennya, disini terdapat hubungan antara menulis dengan keterampilan membaca dan berbicara, menulis sebagai suatu cara berkomunikasi, batasan, fungsi, serta tujuan menulis, dan ragam tulisan. Bab ke dua membahas mengenai tulisan bernada akrab seperti tulisan pribadi, bentuk-bentuk tulisan pribadi, cerita otobiografis. Pada bab tiga menjelaskan tentang tulisan bernada penerangan, ragamnya, serta petunjuk-petunjuk menulis pemerian. Dalam bab ke empat membahas mengenai tulisan bernada penjelasan, klasifikasi, definisi, analisis, opini, susunan tulisan penyingkapan, dan bentuk paragraf penyingkapan. Bab lima berjudul tulisan bernada mendebat. Bab ke enam tulisan bernada mengkritik, yang menurut saya arahnya lebih ke penulisan karya tulis sastra. Bab ke tujuh menjelaskan mengenai tulisan bernada otoritatif.

Buku ini cocok untuk penulis pemula atau penulis ulung, sebab terdapat penjelasan bagaimana cara menulis mulai dari dasar hingga ke tahap yang lebih sulit. Pada buku ini terdapat teknik-teknik dalam menulis. Menurut saya karena buku ini terbitan lama, maka didalamnya tidak memuat teknik-teknik menulis terbaru yang lebih mudah dan praktis untuk digunakan. Buku ini sangat bermanfaat karena tidak hanya membahas penulisan karya ilmiah tetapi juga membahas mengenai penulisan karya sastra, atau dapat dikatakan bersifat fleksibel sebab dapat digunakan untuk calon penulis beraliran ilmiah atau sastra, disini pembaca dapat belajar mengenai berbagai macam tulisan. Dalam buku ini penulis menggunakan beberapa istilah/kata sulit dipahami, pada hal ini dapat membawa dampak positif dan negatif bagi pembaca, dampak positifnya apabila pembaca kurang memahami lalu mencari tahu tentang maknanya maka pengetahuan pembaca akan bertambah, namun apabila pembaca hanya melewati/tidak mencari tahu istilah yang sulit dimengerti maka pemahaman pembaca akan berkurang. Buku ini lebih menekankan penjelasan mengenai karya ilmiah sedangkan untuk karya sastra dijelaskan tidak secara mendalam. Buku ini memuat banyak daftar rujukan dari penulis-penulis dunia serta memberikan penjelasan tidak hanya berupa tulisan tetapi dengan menggunakan bagan dan gambar sehingga membuat pembaca lebih mudah untuk memahami materi. Pada buku ini terdapat banyak teori dari para ahli, penulis juga memberikan tips atau cara-cara membuat karya tulis, tetapi dalam buku ini tidak memberikan contoh-contoh jurnal.

Resume



MENULIS SEBAGAI SUATU KETERAMPILAN BERBAHASA
Karya : DR. Henry Guntur Tarigan

            Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan yang terakhir keterampilan menulis. (Nida, 1957: 19; Harris, 1977: 9; Tarigan,1981:1).
            Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin trampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. (Tarigan, 1980: 1, 1981: 2. Dawson [ et al] , 1963 : 27). Ketrampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan, harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur. Kiranya tidaklah terlalu berlebihan bila kita katakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Sehubungan dengan hal ini ada seorang penulis yang mengatakan bahwa “menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat/merekam, meyakinkan, melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiannya dan mengutarakan dengan jelas, kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat.” (Morsey, 1976 : 122).
            Antara menulis dan membaca  terdapat hubungan yang sangat erat. Bila kita menuliskan sesuatu, maka pada prinsipnya kita ingin agar tulisan itu dibaca oleh orang lain; paling sedikit dapat kita baca sendiri pada saat lain. Kalimat tujuan direncanakan untuk menolong kita untuk berpegang teguh pada pikiran pokok yang ada dalam hati kita dan mengarahkan responsi yang kita inginkan dari pembaca. Adapun ciri-ciri tulisan yang baik itu antara lain :
a.      Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis mempergunakan nada yang serasi.
b.      Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis menyusun bahan-bahan  yang tersedia menjadi keseluruhan yang utuh.
c.      Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar.
d.      Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis secara meyakinkan.
e.      Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk mengkritik naskah tulisannya yang pertama serta memperbaikinya.
f.       Tulisan yang baik mencerminkan kebanggan sang penulis dalam naskah atau manuskrip.
Penulis yang baik menyadari benar-benar bahwa hal-hal kecil seperti itu dapat memberi akibat yang kurang baik terhadap karanya. (Adelstein & Pival, 1976 : xxi). Secara singkat ada pula ahli yang merumuskan ciri-ciri tulisan yang baik seperti berikut ini:
a)     Jujur: jangan coba memalsukan gagasan atau ide anda.
b)     Jelas: jangan membingungkan pembaca.
c)     Singkat: jangan memboroskan waktu pembaca.
d)     Usahakan keanekaragaman: panjang kalimat yang beraneka ragam; berkarya dengan penuh kegembiraan. (Mc. Mahan & Day; 1960 : 6).
Secara singkat dapatlah dikemukakan bahwa :
a.      Tulisan dibuat untuk dibaca.
b.      Tulisan didasarkan pada pengalaman.
c.      Tulisan ditingkatkan melalui latihan terpimpin .
d.      Dalam tulisan makna menggantikan bentuk.
e.      Kegiatan-kegiatan bahasa lisan hendaklah mendahului kegiatan menulis. (Logan [at al], 1972 : 297).

Carlyle, Kant, Mirabeau, dan Renan – yang percaya bahwa penemuan tulisan benar-benar telah membentuk awal peradaban yang nyata. Pendapat-pendapat tersebut benar-benar ditunjang pula oleh pernyataan yang acapkali dikutip dalam antropologi; “As language distinguishes man from animal, so writing distinguishes civilized man from barbarian” (Sebagaimana bahasa membedakan mansia dari binatang, begitupula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab). Atau dengan kata lain : Tulisan hanya terdapat dalam peradaban, dan peradaban tidaklah ada tanpa tulisan. ( Gleb, 1969: 2212).
Hubungan erat antara menulis dan berbicara. Kedua-duanya memliki ciri yang sama, yaitu produktif dan ekspresif. Perbedaannya ialah bahwa dalam menulis diperlukan penglihatan dan gerak tangan, sedangkan dalam berbicara diperlukan pendengaran dan pengucapan. “Retorik adalah seni penggunaan bahasa secara tepat guna”. (Brooks and Warren, 1979 : 5). Persamaan antara tulisan dan ujaran ialah bahwa kedua-duanya :
·        Merupakan alat komunikasi
·        Merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa
·        Bersifat ekspresif
·        Bersifat produktif
·        Memerlukan kosa kata yang cukup
·        Menggunakan struktur kata, frase, kalimat
·        Menuntut kecepatan umum
·        Menuntut latihan intensif
·        Menuntut pendidikan khusus berprogram.
Perbedaan atara keduanya :
Tulisan ada di atas kertas. Untuk dilihat/dibaca. Dapat dilihat, tidak dapat disimak. Sedikit/hampir tidak ada pengulangan. Menggunakan bahasa resmi/buku. Sedangkan ujaran ada dalam ucapan. Untuk disimak. Dapat disimak, tidak dapat dibaca. Sering/banyak diadakan pengulangan. Mempergunakan bahasa percakapan/sehari-hari.
Proses komunikasi berlangsung melalui tiga media :
a)     visual (atau non verbal)
b)     oral (lisan)
c)     written (tulis).
Tujuh jenis tujuan menulis :
1)     tujuan penugasan (assignment purpose)
2)     tujuan altruistrik  ( altruistric purpose)
3)     tujuan persuasif ( persuassive purpose)
4)     tujuan penerangan ( informational purpose)
5)     tujuan pernyataan (self-expressive purpose)
6)     tujuan kreatif (creative purpose)
7)     tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose).

ü  nada akrab/intim ( the intime voice)
ü  nada informatif
ü  nada mejelaskan ( the explanatory voice)
ü  nada argumentatif ( the argumentative voice)
ü  nada mengkritik ( the critical voice)
ü  nada oritatif
Enam jenis tulisan (Disarikan dari : Adelstein & Pival, 1976 : 1978).
            Tulisan pribadi adala suatu pernyataan dari gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai pengalaman-pengalaman kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita sendiri ataupun bagi kepentingan dan kenikmatan sanak keluara atau sahabat karib.
Empat jenis bentuk tulisan pribadi :
§  buku catatan harian (journal)
§  cerit otobiografis (autobiographical narrative)
§  lelucon otobiografis (autobiographical anecdote)
§  esei pribadi (personal essay)
Petunjuk menulis jurnal
a)     Tulislah sesuatu setiap hari
b)     Batasilah setiap catatan jurnal sengan satu pokok penting dan luar biasa saja.
c)     Hendaklah melibatkan diri lebih pada penangkapan setiap seluk beluk pengalaman yang penting tinimbang pada sarana-sarana penulisan.
d)     Katakan dan ceritakan semua itu dengan kata-kata sendiri
e)     Sekali-kali bacalah catatan-catatan itu sehari atau dua hari kemudian. (Adelstein & Pival, 1976 : 17).

Tujuan tulisan bernada penerangan, nada tulisan seperti ini bersifat informatif, bernada memberi penerangan kepada orang lain. Dan nada informasi ini biasanya menghasilkan tulisan bersifat deskriptif, tulisan yang bersifat melukiskan tau memerikan, bila diabadikan di atas kertas. Ditinjau dari segi bentknya, tulisan pemerian dapat dibagi atas pemerian faktual (factual description) dan pemerian pibadi (personal description).
Bentuk-bentuk tulisan penyingkapan. Berdasarkan bentuknya, tulisan penyingkapan dapat dibagi atas : a) klasifikasi b) devinisi c) analisis e) opini. (Adelstein &Pival, 1976 : 232). Definisi adalah sejenis penyingkapan yang merupakan dasar bagi semua tulisan yang bertujuan untuk menjelaskan. Richard M. Weaver membedakan tiga jenis devinisi, yaitu:
a)     definisi “kamus”
b)     definisi logis atau formal
c)     definisi secara luas. (Weaver, 1957 : 30).
Jenis-jenis Definisi : Sinonom, Ilustratif, Negatif, Formal, Perluasan. Analisis terbagi menjadi dua yaitu analisis Proses dan Butir.
            Tulisan persuasif adalah tulisan yang dapat merebut perhatian pembaca , yang dapat menarik minat, dan yang dapat meyakinkan mereka bahwa pengalaman membaca meupakan suatu hal yang amat penting. Ciri-ciri tulisan persuasif  haruslah jelas dan tertib. Hidup dan bersemangat. Beralasan kuat. Bersifat dramatik. Persuasi logis atau yang biasa disebut argumentasi. Persuasi logis berdasar pada penalaran logis. Penalaran logis mencakup dua proses dasar berpikir dan organisasi, yaitu:
a.      induksi
b.      deduksi

Tulisan yang berada mengkritik menghasilkan tulisan mengenai sastra. Dalam merencanakan dunia fiksi ini, para penulis memegang peranan yang beraneka ragam, antara lain :
a)     Penulis sebagai pemimpin/pengelola pentas; sebagai sutradara, maka sang penulis memusatkan perhatian pada aspek-aspek teknis karya mereka.
b)     Penulis sebagai penulis cerita (scriptwriter), maka sang sastrawan berhadapan dengan aspek-aspek retorik suatu karya sastra.
c)     Penulis sebagai direktur atau pemimpin, kalau kita analogikan suatu karya sastra dengan suatu produksi drama, maka peranan penulis sebagai direktur adalah membentangkan tahap-tahap makna yang telah menjadi sifat karya tersebut.
Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengemukakan suatu hal dengan makna yang berlainan, merupakan suatu kualitas dalam setiap pernyataan atau situasi yang muncul dari kenyataan bahwa sesuatu yang wajar, yang diharapkan tidak disebut atau dilaksanakan, tetapi diganti dengan kebalikannya. Pradoks adalah suatu gaya bahasa pertentangan; sebagai contoh :
            Neraka itu adalah sorga baginya.
            Gula terasa pahit bagi saya.
            Kerja keras merupakan hiburan bagi petani.
Dalam aneka pradoks yang dipergunakn dalam karya-karya sasta terdapat suatu kebenaran kesemestaan yang merupakan dasar bersama. Kadang-kadang pradoks dipergunakan untuk menyebutkan suatu pertanyaan yang melulu bertentangan dengan keyakinan umum. ( Laverty [et al], 1971 : 536).
            Tulisan yang bernada otoritatif menghasilkan kaya ilmiah (the research paper). Tahapa-tahap yang biasanya dilalui dalam tulisan ilmiah adalah sebagai berikut :
a.      Memilih Pokok/Topik
b.      Membaca Pendahuluan.
c.      Menentukan Bibiliografi Pendahulan.
d.      Membuat Kerangka Pendahuluan.
e.      Membuat Catatan.
f.       Menyusun Kerangka Akhir.
g.      Menyusun Naskah Pertama.
h.      Mengadakan Revisi.
i.        Menyusun Naskah Akhir.
j.        Mengoreksi Cetakan Percobaan.
(Adelstein and Pival, 1976 : 521; Klammer, 1978 : 83 : Willis, 1977 : vii-).
           

Kamis, 17 Maret 2016

JURNAL







SCIENTIFIC WRITING


Planning atau Perencanaan

            Saya akan membuat perencanaan jurnal penelitian berdasarkan sebuah jurnal yang saya baca berjudul “PENGARUH JUMLAH ANGGOTA KELUARGA DAN KELENGKAPAN SARANA PENDIDIKAN TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA KELAS V SD”. Jurnal ini dibuat oleh  Laela Yuni Setyaningsih, mahasiswa PGSD FKIP UNS. Pada jurnal ini memuat bagaimana lingkungan atau jumlah  anggota keluarga memiliki pengaruh terhadap hasil belajar Bahasa Indoneia siswa kelas V SD, tidak hanya itu kelengkapan sarana pendidikan juga memiliki pengaruh dalam hasil belajar siswa.
Penelitian yang di buat ini tidak menekankan teori dari Hurlock (2007) mengungkapkan bahwa anak yang tinggal di rumah yang memiliki jumlah anggota keluarganya sedikit biasanya dapat berbicara lebih awal dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang jumlahnya lebih banyak. Hal tersebut karena orang tua memiliki waktu lebih lama untuk mengajar anaknya berbicara. Fakta nya pada uji coba yang dilakukan di lapangan tidak seluruh nya mengacu pada teori ini. Hasil uji coba pada jurnal ini menunjukan bahwa anak yang tinggal dengan keluarga kecil memiliki nilai Bahasa Indonesia jelek, sedangkan anak yang tinggal dengan keluarga besar memiliki nilai yang baik, ini terbukti sebab anak yang hidup pada lingkungan keluarga kecil mendapat peringkat delapan belas dari delapan belas siswa.
Sarana pendidikan menurut Khalifah dan Qutub (2009) adalah hal yang dipersiapkan secara matang untuk menjelaskan materi pelajaran dan menanamkan pengaruhnya di hati siswa. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti melakukan penelitian terhadap jumlah anggota keluarga dan kelengkapan sarana pendidikan yang ada di sekolah untuk dikaitkan dengan hasil belajar Bahasa Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2010) yang menyatakan bahwa lengkap atau tidaknya sarana pendidikan akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Pemilihan metode mengajar yang sesuai dengan materi pembelajaran, akan mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran sehingga akan berdampak pada hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.

Dapat diketahui sarana pendidikan berpengaruh pada hasil belajar, kesadaran orang tua untuk memenuhi sarana sangat di perlukan namun kemampuan memenuhi sarana ini berantung dengan penghasilan orang tua, peran guru dalam menggunakan fasilitas secara maksimal sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan belajar pada siswa. Dari kedua jenis masalah ini didapatkan kesimpulan bahwa jumlah anggota keluarga dan kelengkapan sarana mempengaruhi hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa. Kedua hal ini sangat penting serta sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa, namun tidak memiliki interaksi pengaruh terhadap hasil belajar siswa karena jumlah anggota keluarga sendiri tidak dapat mempengaruhi fasilitas belajar siswa.
Penelitian mengenai Pengaruh Kebiasaan membaca dan Kepemilikan buku pelajaran Bahasa Indonesia terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia. Pendidikan merupakan sebuah program yang melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai tujuan yang diprogramkan misalnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia di Indonesia dapat di- tingkatkan melalui pendidikan. Pada dasarnya pendidikan adalah pembentukan sikap, watak, dan kepribadian melalui kegiatan belajar. Sumantri dan Permana (2001) menyatakan bahwa seorang anak dikatakan telah belajar jika telah terjadi perubahan yang positif dalam kesiapannya menghadapi lingkungan. Pada perencanaan ini saya mengambil dua masalah, yaitu:

1.      Adakah pengaruh kebiasaan membaca terhadap hasil belajar siswa?
2.      Adakah pengaruh kepemilikan buku pelajaran terhadap hasil belajar siswa?

Menurut saya tentu kebiasaan membaca berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, hal ini di dukung oleh pendapat ahli Wigfield dan Gutrie (Soedjanto dan Sandjaa:1) menegaskan bahwa “anak-anak yang memiliki minat baca tinggi juga akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak-anak yang memiliki minat membaca rendah akan rendah pula prestasinya.” Minat membaca yang tinggi akan memainkan peran yang terpenting bagi para pelajar sukses. Kecerdasan (intelligence) tidak dianggap sebagai faktor utama untuk meraih sukses dalam belajar, akan tetapi apabila intelligence yang tinggi di dukung kebiasaan yang baik dan dilandasi minat yang pasti akan mendatangkan keberhasilan dalam belajar, seperti pendapat Slameto (2010:82), bahwa “minat membaca sekaligus kebiasaan belajar besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar” dari keterangan ini kita ketahui siswa yang rutin membaca akan lebih mudah memahami materi pelajaran serta  merasa lebih mudah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan baik dari guru maupun dari soal-soal latihan yang diberikan, itu merupakan sebab mengapa kebiasaan membaca berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Pengaruh kepemilikan buku pelajaran terhadap hasil belajar siswa. Kepemilikan buku pelajaran memiliki pengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa sebab dapat di ketahui buku pelajaran merupakan sarana belajar yang mempermudah siswa dalam tahap pebelajaran baik di rumah maupun di luar sekolah. Seorang siswa yang tidak memiliki buku pelajaran prestasi belajar nya tidak akan maksimal karena ia hanya dapat mengandalkan materi yang diberikan guru saat di sekolah saja, sedangkan pada saat di luar sekolah ia tidak memiliki bahan acuan untuk belajar. Berbeda hal nya dengan siswa yang memiliki buku pelajaran ia dapat kapan saja belajar tanpa hanya mengandalkan materi yang diberikan oleh guru sebab ia  telah memiliki acuan belajar lain yaitu berupa materi yang berasal dari buku pelajaran. Untuk kesimpulan atau hasil data yang bersifat pasti pada jurnal haruslah dilakukan uji coba langsung di beberapa sekolah sehingga data-data yang didapat tidak keliru untuk dimuat pada penelitian jurnal.

DRAFTING atau Mengumpulkan Konsep-Konsep
           
            Untuk memperkuat pendapat saya terhadap Penelitian mengenai Pengaruh Kebiasaan membaca dan Kepemilikan buku pelajaran Bahasa Indonesia terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia, yang saya lakukan harus menyiapkan berbagai seumber diantaranya buku yang berkaitan dengan pendidikan, perkembangan anak, serta buku teks yang cocok untuk anak. Selain itu saya akan mengupulkan berbagai bahan penelitian yang mengandung materi dan berkaitan dengan penelitian saya serta perlunya juga uji coba langsung ke sekolah-sekolah sehingga data yang di dapatkan akurat bukan hanya perkiraan semata. Agar segala apapun yang saya tulis di dalam jurnal penelitian saya dapat dipertahankan serta diperkuat dari teori-teori yang tidak sembarangan saya ambil.

REVISING Merevisi atau Meninjau Ulang

Mengoreksi serta membaca lagi, tulisan ini membuat saya tahu bahwa tulisan ini banyak memiliki kekurangan, untuk itu saya membutuhkan pendapat, saran, serta kritik dari dosen pembimbing mata kuliah ini maupun dari kawan-kawan, sehingga kedepan nya saya dapat memperbaiki atau merevisi tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang lebih baik lagi untuk itu saya sangat mengharapkan masukan dari kalian.

Working With In The Procces

      Seperti yang sering dikatakan “Proses tidak akan pernah menghianati hasil”. Tanpa melalui suatu proses tidak ada sebuah hasil, begitu juga dalam membuat maupun melakukan sesuatu pekerjaan pastilah ada proses panjang yang harus dilalui untuk mendapatkan hasil maksimal dalam hal apapun.